Senin, 07 Mei 2012


PEMBAHASAN

1.      Pengertian Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah terhindarnya orang-orang dari gangguan kejiwaan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat (1968) “kesehatan mental adalah terhindarnya orang-orang dari gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).   Selanjutnya Kartini Kartono dan Jenny Andari (1989) berpendapat bahwa kesehatan mental itu adalah usaha untuk mendapatkan keseimbangan  jiwa, menegakkan kepribadian yang
terintegrasi dengan baik serta mampu memecahkan segala kesulitan hidup dengan kepercayaan diri dan keberanian. Sedangkan Harold W. Bernard (1970) lebih mendefinsikan secara luas mengenai kesehatan mental ini yaitu:

Mental health may be defined as the adjustment of individuals to themselves and the world at large with a maximum of effectiveness, satisfaction, cheerfulness, and socially considerate behavior, and the ability of facing and accepting the realities of life. The highest degree of mental health might, therefore, be described as that which permits an individual to realize the greatest  success which his capabilities will permit, with a maximum of satisfaction to himself and the social order and a minimum of friction and tension.
Menurut Harold ini kesehatan mental itu berarti penyesuaian individu untuk diri mereka sendiri dan dunia pada umumnya secara maksimum, baik itu efektivitas, kepuasan, keceriaan, dan perilaku sosial, perhatian, dan kemampuan menghadapi dan menerima kenyataan hidup. Tingkat tertinggi kesehatan mental memungkinkan individu untuk mewujudkan keberhasilan terbesar yang sesuai dengan kemampuannya. Kesimpulannya kesehatan mental terkait dengan       (1) bagaimana kita memikirkan, merasakan menjalani kehidupan sehari-hari;       (2) bagaimana kita memandang diri sendiri dan sendiri dan orang lain; dan           (3) bagaimana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.
2.      Konsep Sehat dan Tidak sehat secara mental
Pribadi yang normal itu pada umumnya memiliki mental yang sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya juga memiliki mental yang tidak sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas itu sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum (biasa pada umumnya), maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal.
Kartini Kartono dan Jenny Andari (1989), mengemukakan bahwasanya pribadi normal dengan mental yang sehat akan bertingkah laku adekuat (serasi, tepat) dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. Pribadi yang normal dengan mental sehat itu secara relative dekat sekali dengan integritas jasmaniah-rohaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya stabil, tidak banyak memendam konflik internal suasana hatinya tenang imbang, dan jasmaninya selalu sehat. Sebaliknya pribadi abnormal dengan mental yang tidak hygienis atau sehat mempunyai atribut sebagai secara relative mereka itu jauh daripada status integrasi, dan mempunyai atribut “inferior” dan “superior”. Kompleks-komplek inverior ini misalnya kita temukan pada penderita psikosa, neurosa, dan psikopat (Kartini Kartono dan Jenny Andari, 1989).
   Pribadi abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, baik yang tunggal ataupun yang ganda, dengan kelainan-kelainan atau abnormalitas pada mentalnya: selalu diliputi konflik batin, jiwanya miskin atau tidak stabil, tidak punya perhatian pada lingkungan sekitar, terpisah hidupnya dari masyarakat, dan selalu merasa gelisah takut. Biasanya mereka itupun juga sakit-sakitan.

3.      Tujuan Kesehatan Mental
Tujuan yang ingin dicapai oleh ilmu kesehatan mental meliputi kepentingan pribadi dan sosial. Kepentingan pribadi itu mencakup segala usaha untuk menjadikan individu sehat mentalnya, berarti bahwa ia dengan yakin mempunyai hidup yang bertujuan, bahwa ia dapat mencapai cita-cita hidupnya melalui jalan yang wajar dan bahwa ia dapat menggunakan dengan berhasil segala kemampuan dan kesanggupannya, bahwa ia mempunyai rasa hormat dan kepercayaan pada diri sendiri, bahwa ia dapat mencintai dan dicintai, bahwa ia menjadi bagian dalam masyarakat, bahwa ia bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan dirinya dan lingkungannya dan seluruh bangsa dan negaranya .
Kepentingan sosial itu menyiapkan individu agar ia menjadi orang yang bahagia dan produktif, berguna untuk sesama manusia, dapat menyumbangkan tenaga dan pikiranya guna perbaikan dan penyempurnaan keadaan masyarakat sekitarnya yang tengah menghadapi perubahan dan tantangan.
Secara umum kesehatan mental bertujuan: 1. Pengembalian kesehatan mental 2. Pencegahan kesakitan mental 3. Peningkatan kesehatan mental. 4. Memiliki dan membina jiwa yang sehat. 5. Berusaha mencegah timbulnya kepatahan jiwa ( mental breakdown ), mencegah berkembangnya macam  macam penyakit mental dan sebab sebab timbulnya penyakit tersebut.
4.      Latar Belakang Lahirnya Kajian Kesehatan Mental
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyakit mental adalah setan-setan, roh-roh jahat, dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah, atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai-rantai besi yang berat kuat, disebabkan oleh anggapan-anggapan yang keliru oleh mereka. Lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dengan menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya. Sebagai contoh ialah jasa-jasa PHILIPPE PINEL di Perancis dan WILLIAM TUKE dari Inggris. Kemudian muncul sikap yang lebih ilmiah terhadap penyakit mental. Yaitu sejajar dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya kepada gerakan mental Hyginie ini adalah CLIFFORD WHITTINGHAM BEERS (1876-1943). Karena pengalaman-pengalaman pribadinya yang amat pedih, ia bisa mengerti betapa besarnya penderitaan orang-orang yang mendapat gangguan mental, dan sering dikucilkan atau dipenjarakan itu. Akhirnya ia menyelenggarakan metode-metode dan cara-cara pemeliharaan yang lebih maju dan lebih manusiawi.
Pada tahun 1930 untuk pertama kalinya diadakan kongres Mental Hiygiene di Washington D.C. Pada tahun 1946, presiden Amerika Serikat menandatangani sebuah undang-undang “The Nasional Mental Health Act.”, yaitu satu blueprint untuk program jangka panjang guna memajukan kesehatan mental rakyat Amerika. Dalam aktifitas ini tercakup kegiatan-kegiatan riset eksperimen-eksperimen laboratorium, diagnose, dan metode-metode terapeutis; antara lain disediakan budget sebesar $ 7.500.000 untuk mendirikan sebuah Nasional Institute of Mental Health.

5.      Ruang Lingkup Kesehatan Mental
Menurut Syamsu Yusuf (1987) ada 6 ruang lingkup kesehatan mental/mental hygiene itu, yaitu sebagai berikut:
a.       Mental Hygiene dalam Keluarga
Penerapan mental hygiene amatlah penting bagi suami istri dalam mengelola keluarga untuk menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah untuk memahami konsep-konsep atau prinsip-pronsip kesehatan mental hygiene ini, yang berfungsi untuk mengembangkan mental yang sehat atau mencegah terjadinya mental yang sakit pada anggota keluarga.
b.      Mental Hygiene di Sekolah
Mental Hygiene di Sekolah Gagasan ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kesehatan mental peserta didik dipengaruhi oleh iklim sosio-emosional di sekolah. Pemahaman pimpinan sekolah dan guru-guru (terutama guru BK atau konselor) tentang mental hygiene sangatlah penting. Pimpinan dan para guru secara sinerji dapat menciptakan iklim kehidupan sekolah (fisik, emosional, sosial, maupun moral spiritual) untuk perkembangan kesehatan mental para siswa. Di samping itu mereka dapat memantau gejala gangguan mental para siswa sedini mungkin. Mereka dapat memahami masalah mental yang dapat diatasi sendiri dan mana yang seyogianya dirujuk ke para ahli yang lebih profesional. Para guru di SLTP dan SLTA perlu memahami kesehatan mental siswanya yang berada pada masa transisi, karena tidak sedikit siswanya yang mengalami kesulitan mengembangkan mentalnya karena terhambat oleh masalah-masalahnya, seperti penyesuaian diri, konflik dengan orang tua atau teman, masalah pribadi, masalah akademis yang semuanya dapat menjadi sumber stres.

c.       Mental Hygiene di Tempat Kerja
Mental Hygiene di tempat kerja Lingkungan kerja memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Lingkungan kerja tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, ajang persaingan bisnis, dan peningkatan kesejahteraan hidup, tetapi juga menjadi sumber stres yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental bagi semua orang yang berinteraksi di tempat tersebut. Banyak masalah yang mengakibatkan gangguan mental di tempat kerja yang diakibatkan oleh stres, apabila masalah-masalah tersebut menimpa suatu lembaga atau perusahaan, maka akan terjadi stagnasi produktivitas kerjadi di kalangan pimpinan atau karyawan. Jika hal ini terjadi, maka tinggal menunggu kebangkrutan lembaga atau perusahaan tersebut. Berdasarkan hal itu, bagi para pimpinan lembaga pemerintah / swasta yang menginginkan tercapainya keberhasilan. Sangatlah penting untuk memperhatikan mental hygiene ini, agar mereka dapat mengembangkan kiat-kiat untuk mencegah terjadinya masalah gangguan emosional, dan memperkecil sumber-sumber terjadinya stress
d.      Mental Hygiene dalam kehidupan Politik
Mental Hygiene dalam Kehidupan Politik tidak sedikit orang yang bergelut dalam bidang politik yang mengidap gangguan mental, seperti : pemalsuan ijazah, money politic, KKN, khianat kepada rakyat dan stres yang menimbulkan perilaku agresif karena gagal menjadi calon legislatif, dll

e.       Mental Hygiene di Bidang Hukum
Mental Hygiene di Bidang Hukum Seorang hakim perlu memiliki pengetahuan tentang mental hygiene, agar dapat mendeteksi tingkat kesehatan mental terdakwa atau para saksi saat proses pengadilan berlangsung, dimana sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan hukum.
f.       Mental Hygiene dalam kehidupan Keberagamaan
Pendekatan agama dalam penyembuhan gangguan psikologis merupakan bentuk yang paling tua. Telah beberapa abad lamanya, para nabi atau para penyebar agama melakukan therapeutik. Semakin kompleks kehidupan, semakin penting penerapan mental hygiene yang bersumber dari agama dalam rangka mengembangkan atau mengatasi kesehatan mental manusia. Ada kecenderungan orang-orang di zaman modern ini semakin rindu atau haus akan nilai-nilai agama, seperti ceramah atau tausiyah. Mereka merindukan hal itu dalam upaya mengembangkan wawasan keagamaannya, atau mengatasi masalah-masalah kehidupan yang sulit diatasinya tanpa nasihat keagamaan tersebut

6.      Karakateristik Kesehatan Mental

a.       Karakteristik Personal
Kartini Kartono (2000:82-83), mengemukakan empat ciri-ciri khas pribadi yang bermental sehat meliputi: 1. Ada koordinasi dari segenap usaha dan potensinya, sehingga orang mudah melakukan adaptasi terhadap tuntutan lingkungan, standar, dan norma sosial serta perubahan social yang serba cepat. 2. Memiliki integrasi dan regulasi terhadap struktur kepribadian sendiri sehingga mampu memberikan partisipasi aktif kepada masyarakat. 3. Dia senantiasa giat melaksanakan proses realisasi diri (yaitu mengembangkan secara riil segenap bakat dan potensi), memiliki tujuan hidup, dan selalu mengarah pada transendensi diri, berusaha melebihi keadaan yang sekarang. 4. Bergairah, sehat lahir dan batinnya, tenang harmonis kepribadiannya, efisien dalam setiap tindakannya, serta mampu menghayati kenikmatan dan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhannya.

b.      Karakteristik Intelektual
Menurut Syamsu Yusuf (1987); Kartini Kartono dan Jenny Andari (1989); WHO dari segi Intelektual karakteristik kesehatan mental itu adalah:
1)      Mampu berpikir realistik dan objektif
2)      Bersifat kreatif dan inovatif
3)      Bersifat terbuka dan fleksible, tidak difensif.
4)      Memiliki kemampuan belajar dari pengalaman hidup.
c.       Karakteristik Sosial
Menurut Syamsu Yusuf (1987) dari segi social, karakteristik kesehatan mental itu adalah:
1)      Memiliki Perasaan Empati dan rasa kasih sayang (affection) terhadap orang lain, serta senang untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.
2)      Mampu berhubungan denga orang lain secara sehat, penuh cinta dan persahabatan.
3)      Bersifat toleran dan mau menerima tanpa memandang kelas social, tingkat pendidika, politik, agama, suku, ras, atau warna kulit.

d.      Karakteristik Moral Keagamaan
Menurut Syamsu Yusuf (1987) dari segi keagamaan, karakteristik kesehatan mental itu diantaranya beriman kepada Allah dan taat mengamalkan ajaran-Nya, jujur, amanah (bertanggung jawab) dan ikhlas dalam beramal.









DAFTAR PUSTAKA

Bernard, W Harold.1970. Mental Health In The Classroom. Portland:McGraw-Hill
Kartini Kartono. 2000. Hygiene Mental. Bandung: CV. Mandar Maju.
Syamsu Yusuf LN.1987. Mental Hygiene. Bandung: Maestro.
Zakiah Daradjat. 1968. Kesehatan Mental. Jakarta: Haji Mas Agung.
Kartini Kartono dan Jenny Andari. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental      
       dalam Islam. Bandung: Mandar Maju.

lamborghini


gangguan psikomatik

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbil’alamin, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, dan hidayah-Nya sehingga, penulis dapat menyelesaikan makalah Gangguan Mental Psikoneurosis. Selama penyusunan makalah  ini diperlukan kesabaran dan usaha yang keras dengan harapan dapat memberikan sesuatu yang terbaik.
Penulis menyadari bahwa isi dari makalah saya ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh penulis.
Pada kesempatan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung baik itu secara moril maupun materil hingga makalah penulis ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah yang penulis buat. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan do’a semoga budi baik dari semua pihak yang telah membantu penulis mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak yang membutuhkannya.
 
     Penulis








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Psikomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktorr kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu  berjuang menekan perasaanya. Jadi psikomatik dapat disebut  sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, yang dalam bahasa arab disebut nafsajasadiyyah atau nafsabiolojiyyah.
Gangguan psikomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan. Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan diperburuk oleh faktor mental seperti strees dan kecemasan.
Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan.
Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut.
Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tdak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian psikomatis
2.      Apa gejala psikomatis
3.      Bagaimata kaitan psikomatis dengan kesehatan mental
4.      Penanganan psikomatis

C.     Tujuan Penulisan
Untuk melengkapi tugas mata kuliah kesehatan mental




















BAB II
GANGGUAN PSIKOSOMATIK


A.    Pengertian Psikosomatik
Gangguan psikosomatik dapat diartikan sebagai reaksi jiwa pada fisik (soma). Menurut American Psychosomatic Society (2005), gangguan psikosomatik berasal dari bahasa Yunani (Psyche= jiwa dan Soma= fisik), sehingga psikosomatik dapat diartikan sebagai hubungan fisik dan jiwa. Ada hubungan yang sangat erat antara faktor fisik, faktos psikologis, dan sosial terhadap perjalanan suatu penyakit.
Gangguan psikomatik ini mungkin bisa menjawab, "Mengapa seseorang bisa terkena serangan jantung setelah bertengkar dengan bosnya?, Mengapa penyakit rematik jadi jauh lebih sakit ketika penyandangnya stres?, Mengapa kematian penyakit jantung dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi?"
Sebuah penyakit dapat muncul akibat banyak faktor. Penyakit dapat muncul sebagai akibat faktor lingkungan atau sosial. Penyakit dapat muncul juga akibat faktor genetik dan keturunan. Berbagai faktor tersebut akan berinteraksi dengan kompleks. Faktor psikologis dapat sebagai pencetus munculnya gangguan fisik, misalnya gangguan tidur akibat kecemasan, nyeri otot tengkuk akibat stres atau diare dan nyeri ulu hati akibat ketakutan.
Faktor psikologis dapat pula mempengaruhi perjalanan klinis suatu penyakit, misalnya pasien stroke dengan depresi akan memiliki status fungsional yang relatif lebih buruk dibanding tanpa stres, angka kematian penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi.
Faktor psikologis mempengaruhi berbagai organ tubuh melalui mekanisme yang kompleks antara faktor saraf, hormonal, dan imunologis. Stres kronik dapat mempengaruhi sistem saraf simpatis dan aktivasi sistem hormonal (aksis hypothalamus- hipofisis- adrenal).
Pacuan sistem hormon adrenal yang berlangsung lama dihubungkan dengan penekanan sistem imun (sistem kekebalan tubuh) karena hormon steroid. Hal ini menerangkan mengapa seseorang dengan stres kronik lebih mudah sakit. Pacuan sistem saraf simpatis menerangkan munculnya hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner akibat stress emosional.
Pada beberapa kasus, gangguan psikosomatik dapat muncul reaksi konversi yang aneh dan tidak dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran. Buta mendadak, lumpuh mendadak, atau kesemutan yang sifatnya aneh umum dijumpai. Penderita pada umumnya masih berusia muda, sebagian besar wanita dan didahului oleh stressor yang jelas. Pasien ini akan menjalani berbagai pemeriksaan dengan hasil yang normal. Penulis beberapa kali menjumpai kasus konversi, dan tindakan psikoterapi sangat membantu kesembuhan pasien.
Pada umumnya pasien dengan gangguan psikosomatik sangat meyakini bahwa sumber sakitnya benar-benar berasal dari organ-organ dalam tubuh. Pada praktik klinik sehari-hari, pemberi pelayanan kesehatan seringkali dihadapkan pada permintaan pasien dan keluarganya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan (rontgen).
Pemeriksaan pencitraan dapat membantu untuk mengurangi kecemasan pada pasien dan keluarganya. Bila hasil pemeriksaan normal, maka tidak perlu ada kecemasan yang berlebih tentang suatu kondisi penyakit yang serius. Simak contoh pada Nona E di atas, ia tidak mau dikonsulkan kepada psikolog atau psikiater karena ia sangat yakin bahwa sumber sakitnya adalah fisik dan bukan psikis.
Mengapa ini terjadi? Kajian sosiologis oleh Nettleton (2006) menggambarkan bahwa pasien "lebih suka menderita sakit yang sifatnya nyata". Sebagian besar pasien juga akan sangat resisten bila diberitahu bahwa sakitnya berhubungan dengan stressor psikososial.Sifat manusia tidak akan suka hidup dalam ketidakpastian, sehingga pasien tetap akan mencari tahu apa penyebab pasti dari sakitnya. Hal ini membuat pencarian penyebab organik akan terus dilakukan. Seorang pasien nyeri kepala primer kronik sangat mungkin akan menjalani pemeriksaan MRI, CT Scan kepala, EEG dan berbagai pemeriksaan laboratorium untuk mencari jawaban "ada sesuatu yang salah dengan diri saya".
Penulis pernah melakukan penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan nasional Indonesian Pain Society (Agustus 2007). Penelitian ingin mengungkap harapan pasien nyeri kepala kronik primer (sebagian besar nyeri kepala tipe tegang otot). Nyeri kepala tipe tegang otot merupakan suatu bentuk gangguan psikosomatik yang umum dijumpai.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hal utama yang pasien inginkan adalah "mencari tahu dari mana nyeri kepala itu berasal". Proses pencarian ini bisa sangat mahal dan menghabiskan sumber daya. Penelitian ini serupa dengan penelitian Davies, dkk (2005) pada 52 pasien nyeri kepala di klinik nyeri tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77% pasien tetap masih ingin tahu sumber nyeri kepalanya dan 33% masih menginginkan pemeriksaan tambahan.
Menurut maramis (1998) gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanifestasikan pada gangguan susunan saraf vegetatif. Gangguan ini menggambarkan interaksi yang erat antara jiwa dan badan. Menurut kaplan et al (1997) dalam iagnostik standar dan satistical manual of mental disorder istilah psikosomatik telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.

B.     Gejala-gejala Psikosomatis
Gejala-gejala gangguan psikosomatik merupakan gejala yang biasa dikenal dengan fungsi faliah, hanya saja dengan secara berlebihan, gejala inni biasanya hanya dirasakan pada satu organ tubuh saja, tetapi kadang-kadang juga berturut-turut atau serentak beberapa organ tubuh terganggu.
Menurut Townsend (1995) ada beberapa gejala spesifik gangguan psikosomatik pada sistem tubuh diantaranya yaitu, kardiovaskuler (migraine, hipertensi, sakit kepal berat), gastrointestinal (sindrom asam lambung, anoreksia), kulit (neodermatitis, pruitus, alergi), genitourinaria (dismenore), endoktrin (hiperteroid, sindrom monopouse).


C.     Pengelompokan psikomatis
Menurut Kaplan, et al (1997), penderita didalam kelompok gangguan psikosomatik klasic seperti ulkus peptikum dan colitis ulseratif. Dalam proses penyakit tersebut ditemukan faktor emosional tertentu. Menurut Maramis (1998), penderita gangguan psikomatik secara umum dibagi menjadi 3 golongan yaitu:
a.       Mengeluh tentang badannya, tetapi tidak terdapat penyakitt badaniyah yang dapat menyebabkan keluahan atau tidak ditemukan kelainan organik.
b.      Terdapat kelainan organik, tetapi yang utama menyebabkanya ialah faktor psikologis
c.       Terdapat kelainan organik, tetapi terdapat juga gejala-gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik tersebut, akan tetapi karena faktor psikologis, faktor psikologis ini mungkin timbul disebabkan penyakit organik tadi, misalnya kecemasan.

D.    Penanganan Psikosomatik
Pencegahan adalah sebuah bentuk layanan yang akan membantu pasien dan keluarga untuk menurunkan faktor resiko terhadap penyakit. Menurut Potter, et all (1989) (dalam Ramsun, 2004), yang menjelaskan bahwa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi stress yakni:
a.       Membangun kebiasaan baru
b.      Menghindari perubahan yaitu usaha yang lakukan untuk tidak melakukan perubahan yang tidak perlu
c.       Menyedikan waktu yaitu menyediakan waktu tertentu yaitu atau membatasi waktu untuk memfokuskan diri beradaptasi dengan stressor
d.      Pengelolaan waktu
e.       Modifikasi lingkungan
f.       Mengurangi respon fisiologis terhadap stress

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanestifikasikan pada gangguan saraf vegetatif yang sebagian besar disebabkan oleh permusuhan, depresi dan kecemasan dalam berbagai proporsi. Sebuah penyakit dapat muncul akibat banyak faktor. Penyakit dapat muncul sebagai akibat faktor lingkungan atau sosial. Penyakit dapat muncul juga akibat faktor genetik dan keturunan. Berbagai faktor tersebut akan berinteraksi dengan kompleks.
Faktor psikologis dapat sebagai pencetus munculnya gangguan fisik, misalnya gangguan tidur akibat kecemasan, nyeri otot tengkuk akibat stres atau diare dan nyeri ulu hati akibat ketakutan.Faktor psikologis dapat pula mempengaruhi perjalanan klinis suatu penyakit, misalnya pasien stroke dengan depresi akan memiliki status fungsional yang relatif lebih buruk dibanding tanpa stres, angka kematian penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi.

B.     Saran
Gangguan ini dapat ditanggulangi dengan ibadah dan kekebalan stress. Penyembuhan seseorng akibat gangguan ini tidak hanya berupa obat yang disesuaikan dengan gejala yang timbul tapi juga dengan menganjurkan pola hidup yang baik, berolahraga, menyalurkan hobi, dan juga yang sangat penting yaitu meningkatkan ibadah





KEPUSTAKAAN


Kaplan. 1997. Comprehensive textbook of psyhiatry. USA. Williams and WILkins
Maramis, WF. 1998. Catatan kedokteran jiwa. Surabaya : Airlangga
Rasmun. 2004. Strees, koping dan adaptasi. Jakarta : Sagung Seto
Townsend, M.C. 1995. Buku saku diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri,
            pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta : EGC