Senin, 07 Mei 2012

frustasi


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kesehatan mental seseorang akan sangat dipengaruhi oleh situasi yang dialaminya. Keadaan seperti kegagalan, kekecewaan dan lain sebagainya itu akan memicu timbulnya frustasi ataupun stress pada seseorang. Frustasi terjadi jika individu mengalami rintangan dan kekecewaan yaitu pada saat individu apa yang diharapkannya tidak terpenuhi. Sedangkan stress adalah frustasi yang berkepanjangan yaitu jika masalah baik kegagalan ataupun kekecewaan yang terjadi itu berlarut-larut maka akan timbullah stress. Frustasi dan stress dapat dibagi menjadi dua dampak yaitu positif dan negative. Dampak tersebut akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana individu tersebut menyikapi masalah yang dialaminya. Individu yang menyikapinya secara positif maka akan membangkitkan semangatnya untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik lagi namun jika individu menyikapi keadaan seperti itu dengan cara yang negative maka akan menyebabkan individu mengalami gangguan mental.

B.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk lebih memahami tentang konsep frustasi dan stres
2.      Untuk mengetahui gejala dan akibat stres
3.      Untuk mengetahui dan memahami proses terjadinya stres
4.      Untuk memahami pengelolaan atau management stress
5.      Untuk melengkapi tugas mata Kesehatan Mental


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
1.      Frustrasi
Kartini Kartono (1989: 50) menjelaskan bahwa frustasi adalah suatu keadaan dimana satu kebutuhan tidak bisa terpenuhi dan tujuan tidak bisa tercapai sehingga orang kecewa dan mengalami satu barrier/halangan dalam usahanya mencapai satu tujuan. Frustasi mempunyai dua sisi yaitu fakta yang tidak tercapainya harapan yang diinginkan dan perasaan, emosi yang menyertai fakta tersebut. sejalan dengan itu, Chaplin (dalam Kartini Kartono 1989: 50) menjelaskan bahwa frustasi adalah penghalang tingkah laku yang tengah beusaha mencapai stu tujuan dan satu keadaan ketegangan yang tidak menyenangkan, disertai kecemasan, dan meningkatnya kegiatan simpatetis sebagai akibat dari hambatan atau halangan.
Frustasi dapat mengakibatkan berbgai bentuk tingkah laku rektif. Contohnya adalah seseorang dapat mengamuk dan menghancurkan orang lain, merusak barang atau menyebabkan desorganisasi pada struktur kepribadian sendiri. Namun sebaliknya, frustasi juga dapat memunculkan titik tolak baru bagi satu perjuangan dan usaha baru. Bisa juga menciptkan bentuk-bentuk adaptasi baru, dan pola pemuasan kebutuhan yang baru. Jadi, adaptasi itu dapat menimbulkan dampak positif atau negative yang tergantung dari cara seorang individu menyikapi masalah yang dialaminya itu. Indivisu yang tidak mampu menyikapi masalahnya dengan tepat maka akan memicu timbulnya frustasi negative yang akan mempengaruhi kesehatan mentalnya.


2.      Stress
secara sederhana, stress adalah frustasi yang berkepanjangan. Syamsu Yusuf (2009) menjelaskan bahwa stress adalah psikofisik yang ada (inheren) dalam diri  setiap orang yaitu stress dapat dialami oleh stiap orang, tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status social ekonomi. Stress bisa dialami oleh bayi, anak-anak, remaja atau dewasa. Menurut A. Baum (dalam Syamsu Yusuf  2009: 103) mengartikan stress sebagai pengalaman emosional yang disertai perubahan biokimia, fisik, koqnitif, dan tingkah laku yang diarahkan untuk mengubah peristiwa stress tersebut atau mengakomodasikan dampaknya.
Stress dapat berpengaruh positif atau negative. Pengaruh positif yaitu mendorong individu untuk membangkitkan kesadaran dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan berpengaruh negative yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi dan memicu sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi atau stroke. Positif ataupun negatifnya pengaruh stress inu juga akan dipengaruhi oleh cara individu menyikapi keadaan/ kekecewaan yang dialaminya.

B.     Gejala dan Akibat Stres
1.      Gejala stress
Syamsu Yusuf (2009:109) menjelaskan beberapa gejala-gejala yang dialami oleh orang stres adalah sebagai berikut:
a.       Gejala fisik, diantaranya: sakit kepala, sakit lambung (maag), hypertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia (sulit tidur), mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air kecil.
b.      Gejala psikis, diantaranya: gelisah atau cemas, tidak dapat konsentrasi belajar atau bekerja, sikap apatis (masa bodoh), sikap pesimis, hilang rasa humor, malas belajar atau bekerja, sering melamun, dan sering marah-marah atau bersikap agresif (baik secara verbal, seperti kata-kata kasar dan menghina, maupun non-verbal, seperti menempeleng, membanting pintu, dan memecahkan barang-barang).
Individu yang mengalami stres ada yang terlihat dari fisik maupun psikisnya namun ada juga individu yang tidak terlihat bahwa dirinya sedang stress. Stress menurut transactional model dari Lazarus dan Folkman (1984) adalah tergantung secara penuh pada persepsi individu terhadap situasi yang berpotensi mengancam. Penilaian individu terhadap sumber daya yang dimilikinya menentukan bagaimana individu memandang sebuah situasi spesifik sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan atau ancaman yang berbahaya. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bagaimana individu mempersepsikan situasi yag dihadapinya menentukan bagaimana respon yang dimunculka
Dalam http://gejalastress.wordpress.com/gejala-stress/  individu yang mengalami stress akan terlihat dari:
1.      Jantung sering berdebar tanpa sebab diketahui
2.       Berkeringat dingin atau merasa menggigil
3.      Lebih sering ke toilet dari biasanya
4.      Mulut terasa kering
5.      Sakit/ nyeri di perut bagian atas
6.      Mudah lelah walaupun mengerjakan pekerjaan yang ringan
7.      Merasa sakit seluruh otot badan yang tidak biasa
8.      Sakit kepala tanpa sebab
9.      Mudah tersinggung,
10.  Kurang rasa humor
11.  Kurang selera terhadap makanan, kesenangan ataupun seks
12.  Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit tanpa disadari
13.  Kurang  punya waktu  menjalankan hobi/ kebiasaan
14.  Merasa tidak mampu mengatasi permasalahan apapun
15.  Kurang tertarik berkomunikasi dengan orang lain, selalu menghindar
16.  Kurang percaya  terhadap penampilan diri
17.  Merasa segala sesuatu tidak berguna
18.  Selalu merasa kehilangan dan sedih
19.  Pelupa
20.  Sulit tidur, tidur tidak nyaman dan mudah terbangun, bangun merasa tidak segar 
2.      Akibat stress
Syamsu Yusuf (2009) menjelaskan bahwa akibat stress itu ada empat yaitu:
a.       Akibat subyektif adalah akibat yang dirasakan secara pribadi meliputi kegelisahan, agresi, kelesuan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan kesabaran, harga diri rendah, perasaan terpencil dan lain sebagainya.
b.      Akibat perilaku adalah akibat yang mudah dilihat karena perilaku tersebut meliputi tindakan yang biasanya menyimpang, seperti penyalahgunaan obat-obatan, emosional, gelisah dan sebagainya.
c.       Akibat kognitif adalah akibat yang mempengaruhi proses berpikir, meliputi berkurangnya kemampuan memusatkan perhatian (konsentrasi), sensitive terhadap kecaman dan sebagainya.
d.      Akibat fisiologis adalah akibat yang berhubungan dengan fungsi atau kerja alat-alat tubuh yaitu tingkat gula darah meningkat, denyut jantung/tekanan darah naik dan mulut kering dan lain-lain.
Akibat stress tergantung dari reaksi seseorang terhadap stress. Umumnya stress yang berlarut-larut menimbulkan perasaan yang tidak mengenakan seperti perasaan cemas, takut, tertekan, kehilangan rasa aman, harga diri terancam, gelisah, keluar keringat dingin, jantung sering berdebar-debar, pusing, sulit atau suka makan, dan susah tidur. Kecemasan yang berat dan berlangsung lama akan menurunkan kemampuan dan efisiensi seseorang dalam menjalankan fungsi-fungsi hidupnya, dan pada akhirnya dapat menimbulkan berbagai macam gangguan jiwa. Seseorag yang mengalami stress akan menunjukkan reaksi yang berbeda tergantung dari tingkat kedewasaan kepribadian, pendidikan dan juga pengalaman hidup seseorang. Beberapa reaksi yang akan timbul dalam menghadapi stress adalah :
1.      Menghadapi langsung dengan segala resikonya
2.      Menarik diri dan tak mau tahu menahu tentang persoalan yang dihadapinya atau lari dari kenyataan
3.      Menggunakan mekanisme pertahanan diri
Charles N. Cofer (dalam aprillianpravitasari.blog.com) menyatakan penyebab frustasi adalah:
1.      Physical barrier, yakni semua sumber penyebab frustasi yang berasal dari keadaan fisik seperti tinggi badan, kaki pendek sebelah, dan sebagainya.
2.      Personal deficiencies, yakni semua sumber frustasi yang berasal dari kekurangan pribadi seperti : kurang pandai, rendah diri, pendiam, dan sebagainya.
3.      Uncooperative social arrangement, yakni sumber frustasi yang berasal dari kekurangan kerja sama pengaturan sosial, seperti kurang berinteraksi sosial, menyendiri, ragu-ragu, dan sebagainya.
Sejalan dengan itu, David Kretch dan Richard S. Crutchfield (dalam http://aprillianpravitasari.blog.com) mengungkapkan bahwa penyebab  frustasi adalah :
1)      The physical environmental, yakni sumber-sumber yang berasal dari lingkungan fisik seperti orang haus di padang pasir dan tidak ada air, menyebabkan frustasi.
2)      The biological limitation, yakni sumber penyebab frustasi yang berasal dari keterbatasan biologis individu sendiri, misal orang yang timpang kakinya tidak dapat menjadi pelari cepat.
3)      Psychological complexity, yaitu suatu sumber penyebab frustasi yang berasal dari suasana psikologis dalam diri individu yang kompleks dan mungkin bertentangan akibat ketidaksesuaian lingkungan psikologis dengan kebutuhan dan tuntutan. Misal seorang individu ingin membeli buku, tetapi pada saat bersamaan ibunya menyuruh mengantarkan adiknya dan menunggui saat si adiknya belajar renang.
4)      The social environmental, yakni sumber penyebab frustasi berasal dari lingkungan yang menyebabkan individu mengalami frustasi dalam bertingkah laku sosial, seperti adanya norma-norma sosial. Misal Andi yang diumpat teman-temannya karena ia memberi dengan tangan kiri pada temannya. Dalam hal ini pada masyarakat berlaku tabu memberi dengan tangan kiri.

C.    Proses terjadinya stress
            Gejala-gejala stress pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat dan baru dirasakan bila tahapan gejala sudah lanjut serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari.
1.      Stress tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stress yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan sebagai berikut:
a.       Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
b.      Penglihatan tajam tidak seperti biasanya
c.       Rasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energy semakin menipis
2.      Stress tahap II
Dalam tahap ini dampak stres yang semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap satu diatas sudah mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energy yang tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi dan memulihkan cadangan energy yang mengalami difisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stress tahan II adalah sebagai berikut:
a.       Merasa letih sewatu bangun pagi yang seharusnya merasa segar
b.      Merasa mudah lelah sesudah makan siang
c.       Lekas merasa lelah menjelang sore hari
d.      Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort)
e.       Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)\
f.       Otot punggung dan tengkuk terasa tegang
g.      Tidak bisa santai
3.      Stress tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pasa stress tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan menganggu yaitu:
a.       Gangguan lambung dan usus semakin nyata, misalnya keluhan maag (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare)
b.      Keteganggan otot semakin terasa
c.       Perasaan ketidak tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat
d.      Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar untuk tidur kembali (middle insomnia) atau bangun terlalu pagi atau dinihari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).
e.       Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa lesu dan serasa ingin pingsan). Pada tahap ini seseorang sudah harus berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh terapi.
4.      Stress Tahap IV
Gejala stress tahap IV akan muncul:
a.       Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa sangat sulit.
b.      Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan  dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
c.       Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai.
d.      Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari.
e.       Gangguan pola tidur dan disertai mimpi-mimpi yang menegangkan
f.       Seringkali menolak ajakan (negativisme) karena tidak ada semangat dan kegairahan
g.      Daya konsentrasi dan daya ingat menurun
h.      Timbul perasaan kecemasan dan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan apa penyebabnya
5.      Stress tahap V
Bila keadaan berlanjut maka seseorang itu akan jatuh pada stress tahap V yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
a.       Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion)
b.      Ketidakmampuan unttuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana
c.       Gangguan system pencernaan semakin berat (gastrointestinal deisorder)
d.      Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, bigung dan panic
6.      Stress tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panic (panic attack)  dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami tahap ini berulang dibawa ke UGD bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stress tahap ini adalah sebagai berikut:
a.       Debaran jantung terasa sangat keras
b.      Susah bernafas
c.       Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringan bercucuran
d.      Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan
e.       Pingsan atau kolaps (collapse), bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stressor psiko-sosial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

D.    Pengelolaan Atau Management Stress
Melihat begitu mengerikannya akibat dari stress maka kita perlu melakukan management stress. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi stress:
a.       Jaga selalu kondisi tubuh dan perkuatlah dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat secara disiplin.
b.      Istirahat yang cukup. Tidur merupakan salah satu terapi untuk mengurangi kemarahan dan kesedihan karena tidur memberikan kesempatan untuk otak agar rileks
c.       Lakukan olah raga teratur, gerakan tubuh akan merangsang keluarnya zat endorphine yaitu zat yang membuat tubuh menjadi nyaman. Selain zat tersebut juga dikenal sebagai anti rasa sakit pada tubuh. Itulah sebabnya orang yang berolah raga teratur umumnya tampak lebih fit dan bahagia.
d.      Selalu berpikir positif karena tindakan dan perasaan yang negative pasti berasal dari pikiran negative. Sebaliknya tindakan positif pasti berasal dari pikiran positif,
e.       Lakukan hobby (hal-hal yang menyenangkan dan positif) karena hobby bisa membuat kita rileks dan melupakan sejenak rutinitas atau masalah yang ada.
f.       Jangan terpaku pada rutinitas.
g.      Berani berubah, tidak mau dan ragu.
h.      Mudah senyum, tertawa lepas, bernyanyi danm bersosialisasi dengan lingkungan.
http://www.jokosusilo.com/2010/03/26/8-tips-management-stress-dengan-mengatur-keseimbangan-pola-hidup-anda/ menjelaskan bahwa untuk mengatasi dampak stress maka dapat dilakukan dengan menerapkan delapan tips berikut:
1.      Tidur cukup, Kurang tidur merupakan salah satu sebab terbesar seseorang terjangkit stress. Tidur yang cukup (dan bukan berlebihan) itu ikut membantu mengurangi tingkat ketegangan atau stress
2.      Olahraga cukup. Olahraga yang cukup itu pun bisa membantu mengurangi ketegangan.
3.      Makan teratur
4.      Musik. Suara musik mampu membuat tubuh anda terasa lebih enteng. Anda bisa dengarkan musik untuk mengurangi ketegangan tubuh.
5.      Liburan
Berlibur bersama keluarga atau orang-orang yang anda sayangi untuk sejenak terbebas dari rutinitas yang membelenggu perlu anda lakukan untuk melemaskan urat-urat syaraf.
6.      Hubungan Sosial. Bertemu dengan teman-teman lama atau paling tidak coba menghubungi mereka bisa mempererat kembali hubungan anda.
7.      Hobi. Kerjakan hobi anda untuk meredakan ketegangan
8.      Doa. Dekatkan diri pada-Nya, panjatkan doa, dan senantiasa ucapkan syukur atas segala limpahan nikmat-Nya. Ini berpengaruh besar agar anda terhindar dari serangan stress berat.
Untuk itu ada beberapa hal yang dapat menanggulangi stress, yaitu :
1.      Mengenal dan menyadari sumber-sumber stress.
2.      Membina Kedewasaan kepribadian melalui pendidikan dan pengalaman hidup.
3.      Pengembangan hidup sehat, antara lain dengan cara merasa cukup dengan apa yang kita miliki, tidak tergesa-gesa untuk mencapai apa yang kita inginkan dan kita butuhkan.
4.      Selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa tetap beriman. Fikirkanlah semua kenikmatan yang telah kita dapatkan lebih banyak daripada penderitaan yang kita alami.
5.      Meminta bimbingan dan dukungan kepada keluarga, teman, sahabat, psikolog, atau orang-orang yang lebih dewasa  yang bisa diajak konsultasi.
6.      Hindari sikap-sikap negatif, antara lain memberontak terhadap keadaan, sikap apatis, marah-marah. Hal seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru membuka masalah baru.
7.      Selalu berfikiran positif dan yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Frustasi dan stress sangat berkaitan dengan kesehatan mental seseorang karena individu yang tidak mampu menyikapi masalah, kekecewaan yang dirasakannya secara positif maka akan membuat terganggunya kesehatan mentalnya. Frustasi terjadi jika individu mengalami rintangan dan kekecewaan yaitu pada saat individu apa yang diharapkannya tidak terpenuhi. Sedangkan stress adalah frustasi yang berkepanjangan. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa stress ada setelah individu mengalami frustasi yaitu jika kegagalan yang dialami individu tersebut menjadi masalah yang berlarut-larut.

B.     Saran
Frustasi dan stress dapat dialami oleh setiap orang. Oleh sebab itu, cara seseorang menyikapi keadaan yang mengecewakan ataupun kegagalan hendaklah dijadikan frutasi ataupun stress yang potitif bukan yang negative karena stress yang positif akan membuat seseorang lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar