BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kesehatan mental
seseorang akan sangat dipengaruhi oleh situasi yang dialaminya. Keadaan seperti
kegagalan, kekecewaan dan lain sebagainya itu akan memicu timbulnya frustasi
ataupun stress pada seseorang. Frustasi
terjadi jika individu mengalami rintangan dan kekecewaan yaitu pada saat
individu apa yang diharapkannya tidak terpenuhi. Sedangkan stress adalah
frustasi yang berkepanjangan yaitu jika masalah baik kegagalan ataupun
kekecewaan yang terjadi itu berlarut-larut maka akan timbullah stress. Frustasi
dan stress dapat dibagi menjadi dua dampak yaitu positif dan negative. Dampak
tersebut akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana individu tersebut menyikapi
masalah yang dialaminya. Individu yang menyikapinya secara positif maka akan
membangkitkan semangatnya untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik
lagi namun jika individu menyikapi keadaan seperti itu dengan cara yang
negative maka akan menyebabkan individu mengalami gangguan mental.
B.
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini
adalah:
1. Untuk
lebih memahami tentang konsep frustasi dan stres
2. Untuk
mengetahui gejala dan akibat stres
3. Untuk
mengetahui dan memahami proses terjadinya stres
4. Untuk
memahami pengelolaan atau management stress
5. Untuk
melengkapi tugas mata Kesehatan Mental
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
1. Frustrasi
Kartini
Kartono (1989: 50) menjelaskan bahwa frustasi adalah suatu keadaan dimana satu
kebutuhan tidak bisa terpenuhi dan tujuan tidak bisa tercapai sehingga orang
kecewa dan mengalami satu barrier/halangan dalam usahanya mencapai satu tujuan.
Frustasi mempunyai dua sisi yaitu fakta yang tidak tercapainya harapan yang
diinginkan dan perasaan, emosi yang menyertai fakta tersebut. sejalan dengan
itu, Chaplin (dalam Kartini Kartono 1989: 50) menjelaskan bahwa frustasi adalah
penghalang tingkah laku yang tengah beusaha mencapai stu tujuan dan satu
keadaan ketegangan yang tidak menyenangkan, disertai kecemasan, dan
meningkatnya kegiatan simpatetis sebagai akibat dari hambatan atau halangan.
Frustasi
dapat mengakibatkan berbgai bentuk tingkah laku rektif. Contohnya adalah
seseorang dapat mengamuk dan menghancurkan orang lain, merusak barang atau
menyebabkan desorganisasi pada struktur kepribadian sendiri. Namun sebaliknya,
frustasi juga dapat memunculkan titik tolak baru bagi satu perjuangan dan usaha
baru. Bisa juga menciptkan bentuk-bentuk adaptasi baru, dan pola pemuasan
kebutuhan yang baru. Jadi, adaptasi itu dapat menimbulkan dampak positif atau
negative yang tergantung dari cara seorang individu menyikapi masalah yang
dialaminya itu. Indivisu yang tidak mampu menyikapi masalahnya dengan tepat
maka akan memicu timbulnya frustasi negative yang akan mempengaruhi kesehatan
mentalnya.
2. Stress
secara sederhana, stress adalah
frustasi yang berkepanjangan. Syamsu Yusuf (2009) menjelaskan bahwa stress
adalah psikofisik yang ada (inheren) dalam diri
setiap orang yaitu stress dapat dialami oleh stiap orang, tidak mengenal
jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status social ekonomi. Stress bisa
dialami oleh bayi, anak-anak, remaja atau dewasa. Menurut A. Baum (dalam Syamsu
Yusuf 2009: 103) mengartikan stress
sebagai pengalaman emosional yang disertai perubahan biokimia, fisik, koqnitif,
dan tingkah laku yang diarahkan untuk mengubah peristiwa stress tersebut atau
mengakomodasikan dampaknya.
Stress dapat berpengaruh positif
atau negative. Pengaruh positif yaitu mendorong individu untuk membangkitkan
kesadaran dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan berpengaruh negative
yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau
depresi dan memicu sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi
atau stroke. Positif ataupun negatifnya pengaruh stress inu juga akan
dipengaruhi oleh cara individu menyikapi keadaan/ kekecewaan yang dialaminya.
B.
Gejala
dan Akibat Stres
1. Gejala
stress
Syamsu
Yusuf (2009:109) menjelaskan beberapa gejala-gejala yang dialami oleh orang
stres adalah sebagai berikut:
a. Gejala
fisik, diantaranya: sakit kepala, sakit lambung (maag), hypertensi (darah
tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia (sulit tidur),
mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air
kecil.
b. Gejala
psikis, diantaranya: gelisah atau cemas, tidak dapat konsentrasi belajar atau
bekerja, sikap apatis (masa bodoh), sikap pesimis, hilang rasa humor, malas
belajar atau bekerja, sering melamun, dan sering marah-marah atau bersikap
agresif (baik secara verbal, seperti kata-kata kasar dan menghina, maupun
non-verbal, seperti menempeleng, membanting pintu, dan memecahkan
barang-barang).
Individu
yang mengalami stres ada yang terlihat dari fisik maupun psikisnya namun ada
juga individu yang tidak terlihat bahwa dirinya sedang stress. Stress
menurut transactional model dari Lazarus dan Folkman (1984) adalah tergantung
secara penuh pada persepsi individu terhadap situasi yang berpotensi mengancam.
Penilaian individu terhadap sumber daya yang dimilikinya menentukan bagaimana
individu memandang sebuah situasi spesifik sebagai sesuatu yang dapat
dikendalikan atau ancaman yang berbahaya. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
bagaimana individu mempersepsikan situasi yag dihadapinya menentukan bagaimana
respon yang dimunculka
Dalam http://gejalastress.wordpress.com/gejala-stress/ individu yang mengalami stress akan terlihat
dari:
1. Jantung sering berdebar tanpa sebab
diketahui
2.
Berkeringat
dingin atau merasa menggigil
3.
Lebih
sering ke toilet dari biasanya
4.
Mulut
terasa kering
5.
Sakit/
nyeri di perut bagian atas
6.
Mudah
lelah walaupun mengerjakan pekerjaan yang ringan
7.
Merasa sakit
seluruh otot badan yang tidak biasa
8.
Sakit
kepala tanpa sebab
9.
Mudah
tersinggung,
10.
Kurang
rasa humor
11.
Kurang
selera terhadap makanan, kesenangan ataupun seks
12.
Makan
terlalu banyak atau terlalu sedikit tanpa disadari
13.
Kurang
punya waktu menjalankan hobi/ kebiasaan
14.
Merasa
tidak mampu mengatasi permasalahan apapun
15.
Kurang
tertarik berkomunikasi dengan orang lain, selalu menghindar
16.
Kurang
percaya terhadap penampilan diri
17.
Merasa
segala sesuatu tidak berguna
18.
Selalu
merasa kehilangan dan sedih
19.
Pelupa
20.
Sulit
tidur, tidur tidak nyaman dan mudah terbangun, bangun merasa tidak segar
2. Akibat
stress
Syamsu Yusuf (2009)
menjelaskan bahwa akibat stress itu ada empat yaitu:
a. Akibat
subyektif adalah akibat yang dirasakan secara pribadi meliputi kegelisahan,
agresi, kelesuan, kebosanan, depresi, kelelahan, kekecewaan, kehilangan
kesabaran, harga diri rendah, perasaan terpencil dan lain sebagainya.
b. Akibat
perilaku adalah akibat yang mudah dilihat karena perilaku tersebut meliputi
tindakan yang biasanya menyimpang, seperti penyalahgunaan obat-obatan,
emosional, gelisah dan sebagainya.
c. Akibat
kognitif adalah akibat yang mempengaruhi proses berpikir, meliputi berkurangnya
kemampuan memusatkan perhatian (konsentrasi), sensitive terhadap kecaman dan
sebagainya.
d. Akibat
fisiologis adalah akibat yang berhubungan dengan fungsi atau kerja alat-alat
tubuh yaitu tingkat gula darah meningkat, denyut jantung/tekanan darah naik dan
mulut kering dan lain-lain.
Akibat stress tergantung dari reaksi seseorang
terhadap stress. Umumnya stress yang berlarut-larut menimbulkan perasaan yang
tidak mengenakan seperti perasaan cemas, takut, tertekan, kehilangan rasa
aman, harga diri terancam, gelisah, keluar keringat dingin, jantung sering
berdebar-debar, pusing, sulit atau suka makan, dan susah tidur. Kecemasan yang
berat dan berlangsung lama akan menurunkan kemampuan dan efisiensi
seseorang dalam menjalankan fungsi-fungsi hidupnya, dan pada akhirnya
dapat menimbulkan berbagai macam gangguan jiwa. Seseorag yang mengalami stress
akan menunjukkan reaksi yang berbeda tergantung dari tingkat kedewasaan kepribadian, pendidikan
dan juga pengalaman hidup seseorang. Beberapa reaksi yang akan timbul
dalam menghadapi stress adalah :
1. Menghadapi langsung dengan segala
resikonya
2. Menarik diri dan tak mau tahu menahu
tentang persoalan yang dihadapinya atau lari dari kenyataan
3. Menggunakan mekanisme pertahanan
diri
Charles N.
Cofer (dalam aprillianpravitasari.blog.com) menyatakan penyebab frustasi adalah:
1. Physical
barrier, yakni semua sumber penyebab
frustasi yang berasal dari keadaan fisik seperti tinggi badan, kaki pendek
sebelah, dan sebagainya.
2. Personal
deficiencies, yakni
semua sumber frustasi yang berasal dari kekurangan pribadi seperti : kurang
pandai, rendah diri, pendiam, dan sebagainya.
3. Uncooperative
social arrangement,
yakni sumber frustasi yang berasal dari kekurangan kerja sama pengaturan
sosial, seperti kurang berinteraksi sosial, menyendiri, ragu-ragu, dan
sebagainya.
Sejalan dengan itu, David Kretch dan Richard S. Crutchfield (dalam http://aprillianpravitasari.blog.com)
mengungkapkan bahwa penyebab frustasi
adalah :
1) The
physical environmental,
yakni sumber-sumber yang berasal dari lingkungan fisik seperti orang haus di
padang pasir dan tidak ada air, menyebabkan frustasi.
2) The
biological limitation,
yakni sumber penyebab frustasi yang berasal dari keterbatasan biologis individu
sendiri, misal orang yang timpang kakinya tidak dapat menjadi pelari cepat.
3) Psychological
complexity, yaitu suatu
sumber penyebab frustasi yang berasal dari suasana psikologis dalam diri
individu yang kompleks dan mungkin bertentangan akibat ketidaksesuaian
lingkungan psikologis dengan kebutuhan dan tuntutan. Misal seorang individu
ingin membeli buku, tetapi pada saat bersamaan ibunya menyuruh mengantarkan
adiknya dan menunggui saat si adiknya belajar renang.
4) The
social environmental,
yakni sumber penyebab frustasi berasal dari lingkungan yang menyebabkan
individu mengalami frustasi dalam bertingkah laku sosial, seperti adanya
norma-norma sosial. Misal Andi yang diumpat teman-temannya karena ia memberi
dengan tangan kiri pada temannya. Dalam hal ini pada masyarakat berlaku tabu
memberi dengan tangan kiri.
C. Proses
terjadinya stress
Gejala-gejala
stress pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal
tahapan stress timbul secara lambat dan baru dirasakan bila tahapan gejala
sudah lanjut serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari.
1. Stress tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stress
yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan sebagai berikut:
a. Semangat bekerja besar, berlebihan
(over acting)
b. Penglihatan tajam tidak seperti
biasanya
c. Rasa mampu menyelesaikan pekerjaan
lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energy semakin menipis
2. Stress tahap II
Dalam tahap ini dampak stres yang
semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap satu diatas sudah mulai
menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energy
yang tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk
beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup,
bermanfaat untuk mengisi dan memulihkan cadangan energy yang mengalami difisit.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stress
tahan II adalah sebagai berikut:
a. Merasa letih sewatu bangun pagi yang
seharusnya merasa segar
b. Merasa mudah lelah sesudah makan
siang
c. Lekas merasa lelah menjelang sore
hari
d. Sering mengeluh lambung atau perut
tidak nyaman (bowel discomfort)
e. Detakan jantung lebih keras dari
biasanya (berdebar-debar)\
f. Otot punggung dan tengkuk terasa
tegang
g. Tidak bisa santai
3. Stress tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan
diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pasa stress tahap
II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan menganggu
yaitu:
a. Gangguan lambung dan usus semakin
nyata, misalnya keluhan maag (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare)
b. Keteganggan otot semakin terasa
c. Perasaan ketidak tenangan dan
ketegangan emosional semakin meningkat
d. Gangguan pola tidur (insomnia),
misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah
malam dan sukar untuk tidur kembali (middle insomnia) atau bangun terlalu pagi
atau dinihari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).
e. Koordinasi tubuh terganggu (badan
terasa lesu dan serasa ingin pingsan). Pada tahap ini seseorang sudah harus
berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh terapi.
4. Stress Tahap IV
Gejala stress tahap IV akan muncul:
a. Untuk bertahan sepanjang hari saja
sudah terasa sangat sulit.
b. Aktivitas pekerjaan yang semula
menyenangkan dan mudah diselesaikan
menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
c. Yang semula tanggap terhadap situasi
menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai.
d. Ketidakmampuan untuk melaksanakan
kegiatan rutin sehari-hari.
e. Gangguan pola tidur dan disertai
mimpi-mimpi yang menegangkan
f. Seringkali menolak ajakan
(negativisme) karena tidak ada semangat dan kegairahan
g. Daya konsentrasi dan daya ingat
menurun
h. Timbul perasaan kecemasan dan
ketakutan yang tidak bisa dijelaskan apa penyebabnya
5. Stress tahap V
Bila keadaan berlanjut maka
seseorang itu akan jatuh pada stress tahap V yang ditandai dengan hal-hal
sebagai berikut:
a. Kelelahan fisik dan mental yang
semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion)
b. Ketidakmampuan unttuk menyelesaikan
pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana
c. Gangguan system pencernaan semakin
berat (gastrointestinal deisorder)
d. Timbul perasaan ketakutan dan
kecemasan yang semakin meningkat, bigung dan panic
6. Stress tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan
klimaks, seseorang mengalami serangan panic (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang
yang mengalami tahap ini berulang dibawa ke UGD bahkan ICCU, meskipun pada
akhirnya dipulangkan karena ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran
stress tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Debaran jantung terasa sangat keras
b. Susah bernafas
c. Sekujur badan terasa gemetar, dingin
dan keringan bercucuran
d. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang
ringan
e. Pingsan atau kolaps (collapse), bila
dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih
didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal
(fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stressor psiko-sosial yang melebihi
kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
D. Pengelolaan
Atau Management Stress
Melihat begitu mengerikannya akibat
dari stress maka kita perlu melakukan management stress. Hal-hal yang dapat
dilakukan untuk mengantisipasi stress:
a. Jaga selalu kondisi tubuh dan
perkuatlah dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat secara
disiplin.
b. Istirahat yang cukup. Tidur
merupakan salah satu terapi untuk mengurangi kemarahan dan kesedihan karena
tidur memberikan kesempatan untuk otak agar rileks
c. Lakukan olah raga teratur, gerakan
tubuh akan merangsang keluarnya zat endorphine yaitu zat yang membuat tubuh
menjadi nyaman. Selain zat tersebut juga dikenal sebagai anti rasa sakit pada
tubuh. Itulah sebabnya orang yang berolah raga teratur umumnya tampak lebih fit
dan bahagia.
d. Selalu berpikir positif karena
tindakan dan perasaan yang negative pasti berasal dari pikiran negative.
Sebaliknya tindakan positif pasti berasal dari pikiran positif,
e. Lakukan hobby (hal-hal yang
menyenangkan dan positif) karena hobby bisa membuat kita rileks dan melupakan
sejenak rutinitas atau masalah yang ada.
f. Jangan terpaku pada rutinitas.
g. Berani berubah, tidak mau dan ragu.
h. Mudah senyum, tertawa lepas,
bernyanyi danm bersosialisasi dengan lingkungan.
http://www.jokosusilo.com/2010/03/26/8-tips-management-stress-dengan-mengatur-keseimbangan-pola-hidup-anda/ menjelaskan bahwa untuk mengatasi
dampak stress maka dapat dilakukan dengan menerapkan delapan tips berikut:
1. Tidur cukup, Kurang tidur merupakan salah satu
sebab terbesar seseorang terjangkit stress. Tidur yang cukup (dan bukan
berlebihan) itu ikut membantu mengurangi tingkat ketegangan atau stress
2. Olahraga cukup. Olahraga
yang cukup itu pun bisa membantu mengurangi ketegangan.
3.
Makan teratur
4. Musik. Suara musik mampu membuat tubuh anda
terasa lebih enteng. Anda bisa dengarkan musik untuk mengurangi ketegangan
tubuh.
5. Liburan
Berlibur bersama keluarga atau orang-orang yang anda sayangi untuk sejenak terbebas dari rutinitas yang membelenggu perlu anda lakukan untuk melemaskan urat-urat syaraf.
Berlibur bersama keluarga atau orang-orang yang anda sayangi untuk sejenak terbebas dari rutinitas yang membelenggu perlu anda lakukan untuk melemaskan urat-urat syaraf.
6. Hubungan Sosial. Bertemu dengan teman-teman lama
atau paling tidak coba menghubungi mereka bisa mempererat kembali hubungan
anda.
7. Hobi. Kerjakan
hobi anda untuk meredakan ketegangan
8. Doa. Dekatkan
diri pada-Nya, panjatkan doa, dan senantiasa ucapkan syukur atas segala
limpahan nikmat-Nya. Ini berpengaruh besar agar anda terhindar dari serangan
stress berat.
Untuk itu ada beberapa hal yang
dapat menanggulangi stress, yaitu :
1.
Mengenal
dan menyadari sumber-sumber stress.
2.
Membina
Kedewasaan kepribadian melalui pendidikan dan pengalaman hidup.
3.
Pengembangan
hidup sehat, antara lain dengan cara merasa cukup dengan apa yang kita
miliki, tidak tergesa-gesa untuk mencapai apa yang kita inginkan dan kita
butuhkan.
4.
Selalu
bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa tetap beriman.
Fikirkanlah semua kenikmatan yang telah kita dapatkan lebih banyak
daripada penderitaan yang kita alami.
5.
Meminta
bimbingan dan dukungan kepada keluarga, teman, sahabat, psikolog, atau
orang-orang yang lebih dewasa yang bisa diajak konsultasi.
6.
Hindari
sikap-sikap negatif, antara lain memberontak terhadap keadaan, sikap apatis,
marah-marah. Hal seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru
membuka masalah baru.
7.
Selalu
berfikiran positif dan yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Frustasi
dan stress sangat berkaitan dengan kesehatan mental seseorang karena individu
yang tidak mampu menyikapi masalah, kekecewaan yang dirasakannya secara positif
maka akan membuat terganggunya kesehatan mentalnya. Frustasi terjadi jika
individu mengalami rintangan dan kekecewaan yaitu pada saat individu apa yang
diharapkannya tidak terpenuhi. Sedangkan stress adalah frustasi yang
berkepanjangan. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa stress ada setelah
individu mengalami frustasi yaitu jika kegagalan yang dialami individu tersebut
menjadi masalah yang berlarut-larut.
B. Saran
Frustasi
dan stress dapat dialami oleh setiap orang. Oleh sebab itu, cara seseorang
menyikapi keadaan yang mengecewakan ataupun kegagalan hendaklah dijadikan
frutasi ataupun stress yang potitif bukan yang negative karena stress yang
positif akan membuat seseorang lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.