KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbil’alamin, penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, dan hidayah-Nya sehingga, penulis dapat menyelesaikan makalah Gangguan Mental Psikoneurosis. Selama penyusunan makalah ini diperlukan kesabaran dan usaha yang keras dengan harapan dapat memberikan sesuatu yang terbaik.
Penulis menyadari bahwa isi dari makalah saya ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh penulis.
Pada kesempatan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung baik itu secara moril maupun materil hingga makalah penulis ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah yang penulis buat. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan do’a semoga budi baik dari semua pihak yang telah membantu penulis mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak yang membutuhkannya.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor-faktorr kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika faktor-faktor yang menyebabkan memuncaknya emosi itu secara berkepanjangan tidak dapat dijauhkan, maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaanya. Jadi psikomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental, yang dalam bahasa arab disebut nafsajasadiyyah atau nafsabiolojiyyah.
Gangguan psikomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan. Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan diperburuk oleh faktor mental seperti strees dan kecemasan.
Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan.
Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut.
Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tdak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian psikomatis
2. Apa gejala psikomatis
3. Bagaimata kaitan psikomatis dengan kesehatan mental
4. Penanganan psikomatis
C. Tujuan Penulisan
Untuk melengkapi tugas mata kuliah kesehatan mental
BAB II
GANGGUAN PSIKOSOMATIK
A. Pengertian Psikosomatik
Gangguan psikosomatik dapat diartikan sebagai reaksi jiwa pada fisik (soma). Menurut American Psychosomatic Society (2005), gangguan psikosomatik berasal dari bahasa Yunani (Psyche= jiwa dan Soma= fisik), sehingga psikosomatik dapat diartikan sebagai hubungan fisik dan jiwa. Ada hubungan yang sangat erat antara faktor fisik, faktos psikologis, dan sosial terhadap perjalanan suatu penyakit.
Gangguan psikomatik ini mungkin bisa menjawab, "Mengapa seseorang bisa terkena serangan jantung setelah bertengkar dengan bosnya?, Mengapa penyakit rematik jadi jauh lebih sakit ketika penyandangnya stres?, Mengapa kematian penyakit jantung dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi?"
Sebuah penyakit dapat muncul akibat banyak faktor. Penyakit dapat muncul sebagai akibat faktor lingkungan atau sosial. Penyakit dapat muncul juga akibat faktor genetik dan keturunan. Berbagai faktor tersebut akan berinteraksi dengan kompleks. Faktor psikologis dapat sebagai pencetus munculnya gangguan fisik, misalnya gangguan tidur akibat kecemasan, nyeri otot tengkuk akibat stres atau diare dan nyeri ulu hati akibat ketakutan.
Faktor psikologis dapat pula mempengaruhi perjalanan klinis suatu penyakit, misalnya pasien stroke dengan depresi akan memiliki status fungsional yang relatif lebih buruk dibanding tanpa stres, angka kematian penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi.
Faktor psikologis mempengaruhi berbagai organ tubuh melalui mekanisme yang kompleks antara faktor saraf, hormonal, dan imunologis. Stres kronik dapat mempengaruhi sistem saraf simpatis dan aktivasi sistem hormonal (aksis hypothalamus- hipofisis- adrenal).
Pacuan sistem hormon adrenal yang berlangsung lama dihubungkan dengan penekanan sistem imun (sistem kekebalan tubuh) karena hormon steroid. Hal ini menerangkan mengapa seseorang dengan stres kronik lebih mudah sakit. Pacuan sistem saraf simpatis menerangkan munculnya hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner akibat stress emosional.
Pada beberapa kasus, gangguan psikosomatik dapat muncul reaksi konversi yang aneh dan tidak dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran. Buta mendadak, lumpuh mendadak, atau kesemutan yang sifatnya aneh umum dijumpai. Penderita pada umumnya masih berusia muda, sebagian besar wanita dan didahului oleh stressor yang jelas. Pasien ini akan menjalani berbagai pemeriksaan dengan hasil yang normal. Penulis beberapa kali menjumpai kasus konversi, dan tindakan psikoterapi sangat membantu kesembuhan pasien.
Pada umumnya pasien dengan gangguan psikosomatik sangat meyakini bahwa sumber sakitnya benar-benar berasal dari organ-organ dalam tubuh. Pada praktik klinik sehari-hari, pemberi pelayanan kesehatan seringkali dihadapkan pada permintaan pasien dan keluarganya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan (rontgen).
Pemeriksaan pencitraan dapat membantu untuk mengurangi kecemasan pada pasien dan keluarganya. Bila hasil pemeriksaan normal, maka tidak perlu ada kecemasan yang berlebih tentang suatu kondisi penyakit yang serius. Simak contoh pada Nona E di atas, ia tidak mau dikonsulkan kepada psikolog atau psikiater karena ia sangat yakin bahwa sumber sakitnya adalah fisik dan bukan psikis.
Mengapa ini terjadi? Kajian sosiologis oleh Nettleton (2006) menggambarkan bahwa pasien "lebih suka menderita sakit yang sifatnya nyata". Sebagian besar pasien juga akan sangat resisten bila diberitahu bahwa sakitnya berhubungan dengan stressor psikososial.Sifat manusia tidak akan suka hidup dalam ketidakpastian, sehingga pasien tetap akan mencari tahu apa penyebab pasti dari sakitnya. Hal ini membuat pencarian penyebab organik akan terus dilakukan. Seorang pasien nyeri kepala primer kronik sangat mungkin akan menjalani pemeriksaan MRI, CT Scan kepala, EEG dan berbagai pemeriksaan laboratorium untuk mencari jawaban "ada sesuatu yang salah dengan diri saya".
Penulis pernah melakukan penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan nasional Indonesian Pain Society (Agustus 2007). Penelitian ingin mengungkap harapan pasien nyeri kepala kronik primer (sebagian besar nyeri kepala tipe tegang otot). Nyeri kepala tipe tegang otot merupakan suatu bentuk gangguan psikosomatik yang umum dijumpai.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hal utama yang pasien inginkan adalah "mencari tahu dari mana nyeri kepala itu berasal". Proses pencarian ini bisa sangat mahal dan menghabiskan sumber daya. Penelitian ini serupa dengan penelitian Davies, dkk (2005) pada 52 pasien nyeri kepala di klinik nyeri tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77% pasien tetap masih ingin tahu sumber nyeri kepalanya dan 33% masih menginginkan pemeriksaan tambahan.
Menurut maramis (1998) gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanifestasikan pada gangguan susunan saraf vegetatif. Gangguan ini menggambarkan interaksi yang erat antara jiwa dan badan. Menurut kaplan et al (1997) dalam iagnostik standar dan satistical manual of mental disorder istilah psikosomatik telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
B. Gejala-gejala Psikosomatis
Gejala-gejala gangguan psikosomatik merupakan gejala yang biasa dikenal dengan fungsi faliah, hanya saja dengan secara berlebihan, gejala inni biasanya hanya dirasakan pada satu organ tubuh saja, tetapi kadang-kadang juga berturut-turut atau serentak beberapa organ tubuh terganggu.
Menurut Townsend (1995) ada beberapa gejala spesifik gangguan psikosomatik pada sistem tubuh diantaranya yaitu, kardiovaskuler (migraine, hipertensi, sakit kepal berat), gastrointestinal (sindrom asam lambung, anoreksia), kulit (neodermatitis, pruitus, alergi), genitourinaria (dismenore), endoktrin (hiperteroid, sindrom monopouse).
C. Pengelompokan psikomatis
Menurut Kaplan, et al (1997), penderita didalam kelompok gangguan psikosomatik klasic seperti ulkus peptikum dan colitis ulseratif. Dalam proses penyakit tersebut ditemukan faktor emosional tertentu. Menurut Maramis (1998), penderita gangguan psikomatik secara umum dibagi menjadi 3 golongan yaitu:
a. Mengeluh tentang badannya, tetapi tidak terdapat penyakitt badaniyah yang dapat menyebabkan keluahan atau tidak ditemukan kelainan organik.
b. Terdapat kelainan organik, tetapi yang utama menyebabkanya ialah faktor psikologis
c. Terdapat kelainan organik, tetapi terdapat juga gejala-gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik tersebut, akan tetapi karena faktor psikologis, faktor psikologis ini mungkin timbul disebabkan penyakit organik tadi, misalnya kecemasan.
D. Penanganan Psikosomatik
Pencegahan adalah sebuah bentuk layanan yang akan membantu pasien dan keluarga untuk menurunkan faktor resiko terhadap penyakit. Menurut Potter, et all (1989) (dalam Ramsun, 2004), yang menjelaskan bahwa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi stress yakni:
a. Membangun kebiasaan baru
b. Menghindari perubahan yaitu usaha yang lakukan untuk tidak melakukan perubahan yang tidak perlu
c. Menyedikan waktu yaitu menyediakan waktu tertentu yaitu atau membatasi waktu untuk memfokuskan diri beradaptasi dengan stressor
d. Pengelolaan waktu
e. Modifikasi lingkungan
f. Mengurangi respon fisiologis terhadap stress
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanestifikasikan pada gangguan saraf vegetatif yang sebagian besar disebabkan oleh permusuhan, depresi dan kecemasan dalam berbagai proporsi. Sebuah penyakit dapat muncul akibat banyak faktor. Penyakit dapat muncul sebagai akibat faktor lingkungan atau sosial. Penyakit dapat muncul juga akibat faktor genetik dan keturunan. Berbagai faktor tersebut akan berinteraksi dengan kompleks.
Faktor psikologis dapat sebagai pencetus munculnya gangguan fisik, misalnya gangguan tidur akibat kecemasan, nyeri otot tengkuk akibat stres atau diare dan nyeri ulu hati akibat ketakutan.Faktor psikologis dapat pula mempengaruhi perjalanan klinis suatu penyakit, misalnya pasien stroke dengan depresi akan memiliki status fungsional yang relatif lebih buruk dibanding tanpa stres, angka kematian penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh ada tidaknya depresi.
B. Saran
Gangguan ini dapat ditanggulangi dengan ibadah dan kekebalan stress. Penyembuhan seseorng akibat gangguan ini tidak hanya berupa obat yang disesuaikan dengan gejala yang timbul tapi juga dengan menganjurkan pola hidup yang baik, berolahraga, menyalurkan hobi, dan juga yang sangat penting yaitu meningkatkan ibadah
KEPUSTAKAAN
Kaplan. 1997. Comprehensive textbook of psyhiatry. USA. Williams and WILkins
Maramis, WF. 1998. Catatan kedokteran jiwa. Surabaya : Airlangga
Rasmun. 2004. Strees, koping dan adaptasi. Jakarta : Sagung Seto
Townsend, M.C. 1995. Buku saku diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri,
pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar